Banyak mahasiswa maupun fresh graduate bercita-cita membangun karier di luar negeri karena menawarkan gaji yang lebih kompetitif, kesempatan belajar dari perusahaan kelas dunia, serta peluang pengembangan karier yang lebih cepat.
Tidak sedikit juga yang melihat pengalaman kerja internasional sebagai nilai tambah yang dapat membuka lebih banyak kesempatan di masa depan. Namun, ketika keinginan tersebut mulai muncul, pertanyaan yang paling sering terdengar adalah, "Kalau mau kerja di luar negeri, mulai dari mana?"
Menurut Kevin Hadinata (Software Engineer · Grab), salah satu website yang layak dipantau untuk mencari lowongan di Singapura adalah:
https://www.mycareersfuture.gov.sg/
Lalu bagaimana pengalaman para alumni BNCC yang kini bekerja di Singapura dan Eropa?
"Kalau mau kerja di luar negeri, yang paling penting bukan negaranya, tapi apakah skill kita memang dibutuhkan di sana."
Saya dapat beasiswa kuliah S2 di sini. Jadi sekolah di luar bisa jadi salah satu cara.
Cara lain, punya skill yang sangat dibutuhkan di negara tujuan. Di EU ada aturan kalau mau rekrut dari luar, mereka harus sudah cari kandidat di dalam EU dulu. Kalau memang sulit dapat talent, baru boleh cari dari luar. Kalau tidak, sulit dapat visanya.
Saya ada beberapa kolega dari India dan Vietnam yang tidak pernah kerja ataupun kuliah di Eropa, tapi berhasil dapat kerja di Eropa karena skill mereka memang sangat dibutuhkan di sini.
Kalau untuk bahasa lokal tergantung masing-masing perusahaan. Ada yang cukup English saja, ada juga yang mengharuskan bisa bahasa lokal.
LinkedIn masih jadi platform utama yang saya tahu. Skill yang high demand biasanya IT-based.
Tapi belakangan, dengan booming AI, rekrutmen agak berkurang. Sekarang perusahaan lagi adaptasi dengan AI. Mereka lihat dulu berapa banyak produktivitas yang bisa ditambah dengan AI. Kalau masih belum cukup, baru cari orang.
Untuk fresh graduate berarti saingannya sama lulusan lokal di masing-masing negara. Jadi memang lagi sulit.
Untuk mencari peluang, coba manfaatkan beberapa LLM juga. Suruh AI mencari skill yang sedang dibutuhkan di negara tujuan, lihat daftar shortage occupation dari imigrasi, lalu cari perusahaan yang membuka posisi tersebut. Bahkan saya sarankan coba prompt yang sama ke beberapa AI lalu bandingkan hasilnya.
Jangan lupa aktifkan fitur Open to Work di LinkedIn khusus recruiter dan pilih wilayah tujuan, misalnya Europe, North America, atau Japan.
Tapi menurut saya, cari sendiri tetap jauh lebih efektif daripada nunggu hoki.
Satu hal lagi, kalau mau kerja di perusahaan mana pun, kita harus bisa memenuhi demand mereka.
Kalau demand-nya memang tidak ada di negara tujuan, ya ganti negara tujuan atau ganti skill yang bisa ditawarkan supaya prosesnya lebih efektif.
Saya ada teman kuliah di sini yang dapat beasiswa juga, tapi karena bidang studinya memang kurang dibutuhkan di sini, walaupun pengalamannya lebih banyak daripada saya di bidangnya, mereka tetap tidak dapat tawaran kerja dan akhirnya balik ke Indonesia.
Dari segi pengalaman hidup tetap bermanfaat. Tapi kalau dari sisi karier, prosesnya jadi kurang efektif.
"Semua ini bermula dari growth mindset yang BNCC kembangin dalam diri aku."
Berbekal terbiasa berpikir kritis dalam mengerjakan project di awal karier dan punya learning habit untuk curious mempelajari berbagai tech baru bareng teman-teman BNCC, aku mendapatkan banyak kepercayaan dari manager-ku untuk lead project ber-impact.
Saat mengerjakan beberapa project ber-impact, aku beruntung bisa mempelajari hard skills secara mendalam yang ternyata juga dibutuhkan di beberapa job opportunities di Singapura.
Iseng-iseng apply, ternyata interview-nya berjalan sangat lancar dan akhirnya aku di-relocate ke Singapura.
Selama bekerja di sana, aku juga selalu mendapat Exceeds Expectation Rating.
Untuk Pendapatan di Singapura dibandingkan Indonesia, Harusnya postingan ini cukup valid dan menggambarkan.

"Perusahaan harus keluar biaya lebih mahal untuk hire orang asing. Jadi kita memang harus bisa memberikan value lebih."
Selain hard skill dan soft skill saat interview, menurut gua mereka juga melihat pengalaman kita, baik organisasi, project, maupun pengalaman kerja.
Karena untuk orang asing bisa bekerja di Singapura, perusahaan harus mengeluarkan cost yang jauh lebih mahal dibanding orang lokal.
Jadi kita harus bisa memberikan value yang berbeda dari kandidat lain, bahkan dibanding kandidat yang lebih senior.
Dan perlu dicatat, standar Senior Software Engineer di Singapura lebih tinggi dibanding Senior di Indonesia, tentu kalau secara Sallary bisa sampai di atas Rp 100 Juta ++.
"Bisa kerja di Singapura bukan soal keberuntungan, tapi soal kesiapan mental dan portofolio."
Kuncinya ada tiga.
Selalu terbuka terhadap ide dan koneksi baru.
Selalu memberikan hasil terbaik (strive for excellence).
Adaptif terhadap perubahan, termasuk fasih berkolaborasi dengan AI.
Sisanya adalah urusan administrasi, compliance, dokumen, dan memenangkan kompetisi di pasar global.
BNCC adalah simulasi terbaik untuk melatih semua mentalitas tersebut.
"Kerja 996 itu normal sih sebenarnya, karena OKR driven. Tapi kalau mentalnya sudah ada, 996 itu 11-12 kayak waktu di BNCC." 😂