← Articles
Insights · 11 Jul 2026

AI, PHK, Tech Winter dan Bagaimana Masa Depan Karier IT ?: Apa Kata Para Senior BNCC?

PHK di industri teknologi membuat banyak orang khawatir. Para alumni BNCC yang kini menjadi engineering leader, product manager, CTO, dan AI leader membagikan pandangan mereka tentang bagaimana AI seharusnya menjadi leverage, bukan ancaman.

Belakangan ini, berita tentang PHK dan efisiensi karena AI semakin sering muncul, terutama di industri teknologi. Apakah AI benar-benar menggantikan manusia?

BCAF mengajak beberapa alumni BNCC yang kini memimpin tim di berbagai perusahaan teknologi untuk membagikan sudut pandang mereka. Berikut adalah pendapat mereka apa adanya.

Hendyanto
VP of Engineering
Vidio·Head
Manager HRD BNCC 23

Bagi saya, AI itu mirip seperti compiler atau bahasa pemrograman baru, cuma alat bantu.

Saya pakai AI untuk kerjaan yang sifatnya repetitif dan menyita waktu, seperti refactoring massal atau optimisasi kecil yang kalau dikerjakan manual tidak masuk akal.

Ujung-ujungnya, tanggung jawab tetap di tangan engineer. AI cuma mengerjakan, tapi planning dan arah arsitekturnya tetap harus matang dari kita agar hasilnya tidak tebak-tebakan.

Itu kenapa saya juga tetap rekrut junior engineers. Mereka membawa sudut pandang baru, supaya tim tidak kaku dan cuma berpikir satu arah.

Di tengah situasi ekonomi dan Tech Winter, saya tidak melihat AI sebagai alasan untuk pangkas tim secara reaktif.

Justru dengan efisiensi dari AI, tim saya bisa dialokasikan untuk mengerjakan hal lain yang dampaknya jauh lebih besar buat organisasi. Di Vidio malah sudah melebarkan sayap ke EMTEK, bantu-bantu subsidiary lain transformasi AI.

"Basically do more with what we have, bukan do the same thing with less people."

Erwin
Engineer
Traveloka·Manager
Research and Development Manager

Jangan lari dari AI — jadikan senjata

AI itu bukan kompetitor lo. AI adalah force multiplier. Engineer yang bisa leverage AI akan menggantikan engineer yang nggak bisa — bukan AI-nya yang menggantikan lo.

Yang perlu lo kuasai bukan cuma "bisa pakai AI" — tapi bisa critical thinking atas output AI. Tau kapan AI salah, tau batasannya, tau cara prompt yang tepat untuk problem yang kompleks. Itu skill yang nggak semua orang punya.

Kuasai "lapisan atas" yang AI belum bisa replace

AI susah replace:

  • Problem framing — ngerti bisnis problem sebelum coding

  • Communication — jual ide ke stakeholder non-teknis

  • Judgment — keputusan di tengah ambiguitas

  • Ownership — accountability penuh atas outcome

Ini semua bisa lo latih di BNCC.

Di Tech Winter — depth beats breadth

Banyak orang panik dan belajar banyak hal sekaligus. Yang survive justru yang punya kedalaman spesifik di satu area + kemampuan belajar cepat yang terbuktikan.

Pilih satu domain yang lo genuinely curious — bisa Systems, AI Engineering, Security, Data — dan go deep. Jadikan diri lo orang yang dikenal di area itu, lalu combine dengan expertise menggunakan AI tools sebagai partner buat multiply impact dan productivity lo.

Portfolio > Sertifikat

Di era Vibe Coding dan AI-generated code, recruiter makin skeptis sama sertifikat.

Yang works adalah project nyata yang solve real problem — bisa open source, side project, atau kontribusi ke komunitas.

"Kalau lo masih di BNCC sekarang — lo lagi build semua ini secara nggak sadar. Tinggal lo sadarkan dan dokumentasikan."

Adhy Wiranata Prasetyo
Frontend Architect
Money Forward·Head
CEO BNCC 26

AI membantu eksekusi, tapi kalau terlalu bergantung, kemampuan itu lama-lama tumpul.

Kita jadi bisa menjawab, tapi kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan.

Orang yang tetap tajam di problem framing, problem solving, dan reasoning akan tetap relevan apapun tools yang tersedia.

Evelin Rosalita
Product Manager
Bibit·Senior

Tipe orang itu ada 3.

Follow-up worker, yang baru mau gerak kalau dipush orang terus.

Task oriented, dia mau kerja tapi suka linglung dan butuh direction.

Dan goal oriented, yang cuma dikasih tahu goal besarnya dia udah bisa gerak dan tahu harus ngapain.

Apapun rolenya, sebisa mungkin jadilah orang dengan tipe goal oriented.

Dengan sendirinya pasti sadar bahwa AI hanyalah tools yang bisa membantu pekerjaan kita lebih cepat dan jalan lebih jauh.

Akan sangat terlihat cara orang follow-up worker, task oriented, dan goal oriented menggunakan AI. Dan kita akan sama-sama tahu tipe orang seperti apa yang akan digantikan atau tidak lagi diperlukan industri karena ketertinggalan tersebut.

Imdaad Zakaria
Data Analyst & AI
BitHealth·Head

Gue di dunia Data & AI, bahkan sebelum orang-orang ngomongin AI.

Kalau lu takut sama AI berarti lu nggak lebih bagus dari AI.

AI punya decision making yang jelek. Decision making untuk bisnis bisa lu dapetin dari understanding business, human interaction, dan good communication skill.

Jadi kalau mau bersaing dengan AI, lu cuma bisa get good. Good in understanding the business or situation, good in interacting dengan manusia lain, dan good in communication skill.

Punya skill IT aja nggak cukup buat masuk ke dunia kerja. Tiga poin tadi harus lu punya, dan first step gue dapetin semua itu dari BNCC.

Sedikit context, first job landing gue itu first interview gue sebagai professional, dan technically gue nggak pernah ditolak kalau udah masuk tahap interview.

Gue juga sempat cut beberapa orang beberapa bulan lalu karena terlalu bergantung sama AI. Pas ditanya apa yang dia kerjakan, dia sendiri clueless.

Jadi AI is good, tapi balancing dengan technical skill yang bagus. Jump straight ke supercar tapi nggak bisa bawa mobil ya percuma.

Filbert Limena
Founders, CTO
Onero·Director
Manager Fave BNCC 24

AI itu leverage, bukan ancaman.

Gue akan hire orang yang punya common sense dan mau grow. Orang bisa stand out simply karena dia bisa kasih value.

Jangan kira karena ada AI, technical skill jadi nggak penting. Justru makin penting. Memang benar sebagian besar pekerjaan programming sekarang bisa dibantu AI, tapi bagian yang paling kompleks tetap butuh expertise.

Menurut gue sekarang knowledge dan coding sudah jadi komoditas. Yang belum jadi komoditas adalah penerapannya.

AI bisa kasih knowledge, tapi AI nggak bisa menerapkan tanpa expertise.

Makanya sekarang pilihannya sederhana: mau jadi orang yang terancam AI atau orang yang diuntungkan AI.

Kalau mau jadi orang yang diuntungkan, pakai AI buat belajar lebih cepat, eksekusi lebih banyak, dan memperbanyak pengalaman. Karena pada akhirnya expertise itu datang dari pengalaman, trial and error, dan keberanian buat terus mengambil kesempatan.

Danis Jeril Scout Mondoringin
Founders & CEO
Griity·Director
CEO BNCC 25
  1. ⁠Belajar business judgment, gak guna bisa pake AI kalau gak bisa leverage impact real business metrics, bukan vanity metrics. Contohnya di saya gak guna bkin automation ads dan content creation, kalau cuman nambah subscription cost bukan nambah revenue dan kurangin ops cost.

  2. Harus mau ngulik dan jadi creator, create sesuatu yg berguna di bisnis organsisasi atau domain apalun,bukan hanya kelihatan canggih atau keren aja.

  3. S⁠emua ada benang merahnya di BNCC fondasi utk belajar.

Alumni in this article
ErwinEngineer · TravelokaEvelin RosalitaProduct Manager · BibitFilbert LimenaFounders, CTO · OneroHendyantoVP of Engineering · VidioImdaad ZakariaData Analyst & AI · BitHealth
← Back to all articles